Senin, 17 September 2012

Dunia Gelap Malaikatku



Rumah kontrakanku ini tampak lapang sekali dan juga tenang, hal itu karena empat orang teman sekontrakanku yang lain sejak pagi tadi sudah melangkahkan kakinya ke fakultas masing-masing. Teriknya matahari membuat aku enggan beranjak ke luar rumah dan akhirnya aku putuskan untuk mengeram saja di sini, lagipula hari ini tidak ada jadwal kuliah sama sekali.
Datanglah aku menuju kulkas di dapur dan menjemput segelas jus jeruk dingin kesukaanku. Baru saja hendak kuraih gelas tinggi nan menggoda itu, tiba-tiba dari arah belakang mulutku dibekap seseorang dengan tangan besarnya yang aku perkirakan milik lelaki. Jantungku berdetak cepat sekali, sama cepatnya seperti saat aku naik wahana 'halilintar' di Dufan.
"Denger ya, gue ga akan melukai lo. Jadi lo ga perlu takut, apalagi sampai teriak, key?" ujarnya dengan sedikit berbisik berusaha meyakinkan aku.
Walau masih galau, aku mengangguk saja berkali-kali. Setelah itu mulutku tak lagi dibekapnya dan secara otomatis tubuhku pun menjauh darinya. Rasa takutku perlahan lenyap, tapi tidak dengan rasa penasaranku. Aku ingin tahu siapa orang yang telah masuk sembarangan ke kontrakanku ini, maka kuputarlah tubuhku dengan segera menghadapnya, lalu menatap wajahnya. Namun seketika itu pula jantungku kembali berdetak bahkan lebih hebat daripada sebelumnya, tubuhku pun rasanya lemas sekali. Aku terkejut bukan main, namun sebisa mungkin kututupi rasa itu darinya.
Ya Tuhan! Lelaki yang kucari selama ini, sekarang ada di hadapanku, pantas suaranya terdengar tak asing tadi. Jeritku dalam hati.
Laskar Adyamada, itulah nama lengkapnya. Orang-orang memanggilnya Adya, namun aku lebih suka memanggilnya Mada. Teman dekat masa kecilku ini menghilang sudah lebih dari lima tahun lamanya. Setelah kami lulus SMP, ia dan keluarganya pindah tanpa kutahu ke tanah mana, nomor ponselnya pun tak lagi bisa kuhubungi.
Tak kusangka perjumpaan yang senantiasa kunantikan ini membuat kata-kata yang sekian juta banyaknya tak satu pun dapat kusebut, pertanyaan-pertanyaan yang kusimpan selama ini untuknya pun kini tercecer entah di mana. Bagai bisu aku hanya terdiam, sambil terus memandangi manusia berwajah sangar di hadapanku ini.
Penampilannya urakan, rambutnya yang ikal dibiarkan panjang menjuntai sampai ke bahu, warnanya kekuningan dan bau sengatan matahari. Bulatan matanya hitam besar dan sorotnya tajam, saat terbuka nyaris tak pernah lebih kecil dari mata orang yang melotot. Senyumnya pun langka, tak ingin memamerkan giginya yang tak rapi jawabnya dulu ketika kutanya alasan mengapa dia enggan tersenyum. Tubuhnya tinggi lagi kekar, bagai olahragawan otot-ototnya jelas terbentuk. Senasib dengan rambut ikalnya, kulitnya pun tersiksa panas matahari hingga jauh lebih gelap dari yang dulu. Saat berbicara logat Bataknya lantang menantang, menciutkan nyali banyak orang yang mendengarnya.
Walau kata banyak orang ia bertampang penjahat, bagiku ia malaikat. Wajah jahatnya sangat bertolak belakang dengan hatinya yang luar biasa baik. Sifat-sifatnya yang bagai malaikat mampu memotifasiku sedemikian rupa untuk selalu berbuat baik, walau tidak sesempurna dia.
Setelah belasan tahun mengenalnya, aku simpulkan bahwa berbuat baik adalah hobinya. Malaikatku ini hobi sekali sembunyi-sembunyi atau kabur jauh setelah memberikan sedekahnya pada orang-orang jalanan. Seringkali sedekahnya itu tak berupa uang, melainkan paket makan siang yang dibelinya di restoran cepat saji dekat sekolah kami. Soft drink yang sebenarnya sepaket dengan makan siang itu digantinya dengan sekotak susu sapi segar siap minum, mungkin agar lebih sehat. Paket makan siang itu jumlahnya belasan dan kalau dikira-kira harga sepaketnya sebanding dengan harga selembar tiket nonton bioskop twenty-one.
Pada orang lain yang tak dikenal saja Mada senantiasa menyebar kebaikan, apalagi kepadaku dan kepada ratusan teman-temannya yang lain. Ia adalah pendengar yang baik, jujur dan pandai menjaga rahasia, dan aku paling merasa takjub saat di wajahnya tercermin kerendahan dan ketulusan hati yang begitu dalam. Ekspresi itu selalu dapat kutangkap segera setelah ia berhasil membantu kesulitan orang-orang di sekitarnya, saat itu sama sekali tidak terbersit kesombongan di wajahnya, yang ada hanya kepuasan. Pokoknya bagiku ia adalah malaikat.
Terus saja aku mengaguminya, sampai guncangan lumayan hebat mendera kedua pundakku. Seketika itu pula kesadaranku kembali utuh dan mengusir jauh dunia lamunanku tadi.
“Tolong sembunyiin gue, jangan bilang siapa-siapa ya kalau gue ada di sini, please!“
Perhatianku tertuju pada dompet berisi berlapis-lapis uang lima puluh ribuan dan seratus ribuan yang ujung-ujungnya menyembul ke luar sedikit. Dompet tebal itu kini dipegangnya, padahal jelas sekali itu dompet perempuan karena coraknya bunga-bunga dan warnanya merah muda.
Ya Tuhan! Mungkin benda itulah yang menyebabkan ia dikejar-kejar warga. Terkaku dalam hati.
Orang di hadapanku ini belum sepatah kata pun mendengar suaraku, bahkan telingaku pun belum. Karena sejak tadi hanya hatiku saja yang gaduh, sibuk berteriak dan menjerit-jerit, sedangkan mulutku bungkam.
Suara ribut-ribut terdengar mengiringi bunyi ketukan di pintu depan, memecahkan suasana hening yang tercipta dengan sendirinya sejak tadi. Bak orang yang tergesa, ketukannya terdengar kencang dan berulang-ulang.
Saat ini baru pertama kali aku melihat wajahnya yang ketakutan, walau terlihat samar aku pastikan bahwa yang kuyakinkan ini benar.
“Hey, ayolah gue mohon banget sama lo, orang-orang itu pasti lagi nyari gue dan gue gak mau mati sekarang, so please sembunyiin gue!“ permohonannya kali ini terdengar lebih panik dibanding sebelumnya.
Aku menjauh darinya dan dengan gamang melangkah menuju pintu depan. Setelah pintunya kubuka, di hadapanku berdiri belasan laki-laki dengan peluh membanjiri sekujur tubuhnya, penampilannya tak jauh berbeda dengan Mada waktu pertama kali aku melihatnya tadi.
“Misi Mbak, kami semua sedang mengejar seorang pencopet yang setahun belakangan ini meresahkan warga sekitar, namun tadi kami kehilangan jejaknya. Tampangnya serem, ya standar tampang copetlah, rambutnya gondrong segini“ ujar lelaki paruh baya yang mewakili gerombolan warga ini terengah-engah, sambil jari telunjuknya digoreskan di bahunya “Apa Mbak pernah melihatnya atau mungkin dia ada di dalam?“
Lama aku terdiam, bergulat dengan nurani sendiri. Hingga pada akhirnya tanpa kusangka, kepalaku menggeleng dan bibirku meluncurkan kata-kata yang begitu meyakinkan “Maaf, tapi saya gak pernah melihatnya, Mas boleh periksa ke dalam kalau Mas yakin dia ada di dalam!“
Untungnya hal itu tidak mereka lakukan. Lelaki paruh baya itu hanya melemparkan pandangannya ke dalam sebentar, lalu mengajak kawan-kawannya untuk pergi menjauhi kediamanku.
“Ya udah deh kalau memang gak ada, kami akan cari di tempat lain“
“Oh iya Pak!“
Setelah itu mereka pun berangsur-angsur pergi meninggalkanku bersama seseorang yang sebenarnya sedang mereka cari. Tak pernah aku membohongi orang sebanyak tadi dan melakukan hal yang bertentangan dengan hati kecilku.
Ya Tuhan! Ampuni aku. Pintaku dalam hati.
Setelah gerombolan tadi benar-benar pergi jauh, lelaki yang sejak awal kuanggap Mada ini pun keluar dari tempat persembunyiannya. Untuk memastikan apa ia sudah aman, ia pun mengintip sebentar keadaan di luar dari jendela di sisi kiri pintu depan.
”Thanks ya atas bantuannya”
Hanya itu yang ia ucapkan lalu bergegas membawa dirinya ke luar dari kontrakkanku ini. Baru selangkah kakinya melewati ambang pintu depan, aku memanggilnya.
”Kamu Mada?”
Itulah pertanyaan yang pertama kali kusuguhkan kepadanya dan langkahnya pun jadi terhenti. Setelah sejak tadi hanya terdiam, akhirnya aku memecahkan keheningan dengan suaraku sendiri.
Badan kekarnya dibalikkan agar menghadap ke arahku.
”Sekali lagi thanks ya Nona Yava”
Setelah mulutnya tertutup rapat, senyum langkanya pun mengembang dan tertuju kepadaku, kemudian pergi berlari menapaki aspal-aspal panas yang tersiram terik matahari tengah hari.
Begitulah cara ia memuaskan rasa ingin tahuku. Sejak Mada paham artinya ’nona’, ia selalu membubuhi kata itu di depan nama panggilanku. Hanya ia yang iseng memanggilku begitu. Karena itulah hatiku yakin dia pasti Mada, tidak mungkin tidak.
Angin berhembus perlahan, menghantarkan terik matahari menyapa tubuhku yang kaku mematung. Sementara itu air mataku mengalir deras dalam hati, menangisi malaikatku yang entah sejak kapan menjadi gelap dunianya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar